Minggu, 26 April 2015

Kenapa Ada Megawati dan Puan di antara Para Pemimpin Asia Afrika Itu?


Dalam rangka merayakan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, Jumat pagi tadi (24/04/15), para pemimpin dunia dari negara-negara peserta melakukan perjalanan bersejarah, napak tilas (histrorical walk) dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka. Mengulangi apa yang dilakukan para pemimpin pendahulu mereka 60 tahun yang lalu, saat pertama kali KAA diselenggaraan di Gedung Merdeka, Bandung itu.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com, Presiden Jokowi sebagai tuan rumah memimpin konvoi para pemimpin Asia Afrika dengan berjalan paling depan didampingi Ibu Negara Iriana, di sebelah kiri mereka ada pasangan suami-istri PM Malaysia Najib Razak, lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla dan istri.

Di sebelah kanan Jokowi berjalan berdampingan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan istrinya, lalu di sebelah kanannya lagi ada PM Jepang Shinzo Abe ... eh.. bukan... ini yang menarik, ada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan persis di belakangnya adalah anaknya, Puan Maharani, berjalan bersama para pemimpin negara-negara Asia Afrika itu.

Rupanya kali ini keinginan Jokowi yang katanya selalu ingin berada di antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan PM Jepang Shinzo Abe itu “tak kesampaian”.

Pertanyaan dalam kapasitas apa Megawati dan Puan turut berjalan bersama para pemimpin Asia Afrika ketika melakukan histrotical walk itu? Kalau Megawati, sih, bisa dicari-cari alasannya, yaitu dalam kapasitasnya sebagai Presiden kelima, tetapi kalau itu alasannya, seharusnya Presiden keenam, SBY, juga ada, dong? Atau mungkin bisa cari alasan, karena Megawati adalah anak dari presiden pertama Indonesia, Soekarno, sekaligus sebagai pencetus utama KAA itu? Tetapi, masih tetap ada pertanyaan lain: meskipun begitu alasannya, kenapa harus berjalan di barisan terdepan, sejajar dengan Presiden Jokowi, PM Najib Razak, Wapres Jusuf Kalla, dan Presiden Tiongkok Xi Jinping? Bukankah Megawati itu “hanya” Ketua Umum partai politik?

Apakah ini juga karena terpengaruh masih kuatnya obsesi dia untuk menjadi presiden, atau karena hasrat untuk menjadi orang penting dan fokus perhatian di forum internasional itu?

Kalau Megawati masih bisa dicari-cari alasannya, namun bagaimana dengan kehadiran Puan Maharani sendiri, yang dalam hal ini statusnya adalah bawahan Presiden Jokowi, yaitu sebagai salah satu menterinya Jokowi, tepatnya Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan kebudayaan? Kenapa bisa Puan yang hanya menteri itu “menyelipkan” dirinya berjalan sejajar para pemimpin Asia Afrika itu? Supaya bisa ikut merasakan dirinya sebagai orang penting di antara para pemimpin Asia Afrika itu?

Padahal, semua rekannya sesama menterinya Jokowi yang lain sudah terlebih dulu berjalan bersama rekan-rekan mereka dari negara-negara Asia Afrika itu, lalu menunggu para pemimpin mereka itu di Gedung Merdeka.

Kalau mau ada menteri di sana, lebih “nyabung” kalau itu adalah Menteri Luar Negeri Retno Lestari, bukan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Tetapi, karena dia anaknya “pemilik” PDIP, sedangkan Presiden Jokowi hanyalah petugas PDIP, siapa yang berani protes?

Apakah kehadiran ibu dan anak yang berjalan paling depan bersama para pemimpin negara-negara Asia Afrika di acara histrotical walk itu juga karena diundang Presiden Jokowi, ataukah atas inisiatif sendiri, tak perlu ada undangan Jokowi, yang bagi mereka itu hanyalah petugas partainya?

Sikap Puan Maharani yang meskipun “hanya” menteri, tetapi tampaknya tak mau disejajarkan dengan para koleganya sesama menteri di Kabinet Kerja Jokowi itu, bukan baru pertamakali ini saja terjadi. Sebelumnya juga pernah, saat hari pelantikan para menteri oleh Presiden Jokowi, Senin, 27 Oktober 2014.

Saat itu seusai acara pelantikan, semua menteri tampak bergerak menuju Istana Merdeka yang terletak di sebelah utara dari Istana Negara yang ada di bagian selatan Istana Kepresidenan. Mereka berjalan kaki bersama istri dan anak-anaknya, tetapi tidak bagi Puan Maharani. Dia menggunakan mobil golf untuk menuju Istana Merdeka yang jaraknya hanya sekitar 100 meter.

Hal ini langsung menyita perhatian para jurnalis yang hadir untuk meliput. Pasalnya, sangat jarang di dalam acara seperti itu seorang menteri menggunakan mobil golf di dalam kompleks Istana Kepresidenan. Puan menumpang mobil golf yang dikendarai seorang ajudan bersama suami dan seorang stafnya.

Maka Puan adalah satu-satunya menteri yang menggunakan mobil golf itu, sama dengan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Hal ini memberi kesan bahwa Puan seolah-olah adalah sosok yang tidak bisa sedikit saja repot, berkeringat, “bersusah-payah” untuk berjalan kaki menempuh jarak yang hanya sekitar 100 meter itu.

Tanpa merasa risih, ketika semua kolega sesama menteri lainnya berjalan kaki, Puan pun “mensejajarkan” dirinya dengan Presiden Jokowi, sama-sama menggunakan fasilitas mobil golf untuk menuju Istana Merdeka itu.

Sekali lagi, kesan yang muncul adalah Puan seolah-olah tidak mau kelihatan posisinya berada di bawah Jokowi, yang adalah bekas junior dan bawahannya di PDIP itu. Jokowi dan JK beserta istri mereka menggunakan mobil golf, maka demikian juga harus dia dan suaminya.

Demikianlah kejadian serupa terulang Jumat pagi, 24 April 2015, saat para pemimpin Asia Afrika itu melakukan
histrorical walk dari Hotel Savoy Homann menuju ke Gedung Merdeka, di Bandung itu, Menteri Puan pun menyelipkan dirinya di antara rombongan para pemimpin itu, agar serasa sejajar dengan mereka.

Disalin ulang dari tulisan Daniel H.t